SURABAYA, INFOJALANAN.INFO — Dewan Pimpinan Daerah Masyarakat Adat Nusantara (DPD Matra) Kota Surabaya resmi melantik kepengurusan masa bakti 2026–2031 dalam prosesi yang berlangsung di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Surabaya, Sabtu (10/10/2026). Pelantikan tersebut menjadi langkah awal bagi pengurus baru untuk memperkuat pelestarian adat, menjaga warisan leluhur, serta menanamkan nilai-nilai kebudayaan Nusantara kepada generasi muda.
Kegiatan berlangsung khidmat dengan diawali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Himne Matra. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan surat keputusan kepengurusan oleh Sekretaris DPW Matra Jawa Timur, RAyT Deasy Arista Mahadewi.
Prosesi pengambilan sumpah dan pernyataan pengurus dipandu Ketua DPW Matra Jawa Timur, KPP Srie Soeputro Jowo Uja Ciptonagoro, yang akrab disapa Mas Abi. Rangkaian pelantikan dilanjutkan dengan penyematan tanda jabatan serta penyerahan bendera pataka sebagai simbol amanah dan tanggung jawab dalam menjalankan roda organisasi.
Usai doa lintas agama, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan Ketua DPW Matra Jawa Timur, penyerahan pohon Jampinang atau pohon Pancasila, serta penanaman pohon di samping Gedung GNI. Kegiatan tersebut menjadi simbol komitmen organisasi terhadap nilai kebangsaan, persatuan, dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Dalam sambutannya, Mas Abi menekankan bahwa Masyarakat Adat Nusantara harus tetap berdiri sebagai organisasi yang independen dan tidak dijadikan kendaraan bagi kepentingan politik praktis.
Ia menegaskan bahwa setiap anggota maupun pengurus tetap memiliki hak politik sebagai warga negara. Namun, hak tersebut harus dijalankan secara pribadi dan tidak membawa nama organisasi maupun menggunakan adat dan budaya untuk kepentingan politik tertentu.
“Matra bukan politik. Jangan sampai organisasi ini dibawa ke ranah politik. Kalau secara pribadi pengurus atau anggota ingin berpolitik, silakan. Namun, jangan membawa organisasi dan adat ke dalam kepentingan politik,” tegas Mas Abi.
Menurutnya, adat dan budaya Nusantara merupakan warisan sejarah yang memiliki akar panjang dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Karena itu, keberadaan masyarakat adat harus dijaga dari berbagai kepentingan yang berpotensi menggeser tujuan utama pelestarian budaya.
Ia juga mengingatkan bahwa sumpah jabatan yang telah diucapkan para pengurus bukan sekadar rangkaian seremonial, melainkan komitmen moral untuk menjaga kehormatan organisasi, menghargai peninggalan leluhur, dan menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab.
Mas Abi turut mengajak pengurus memahami hubungan antara spiritualitas, kebudayaan, dan kehidupan manusia secara bijaksana. Ia mengingatkan agar pelestarian tradisi tidak dicampuradukkan dengan praktik klenik yang tidak dipahami landasan dan maknanya secara jelas.
Menurutnya, kajian akademis dan ilmiah diperlukan untuk membantu masyarakat memahami sejarah, filosofi, serta nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai tradisi Nusantara. Dengan demikian, kebudayaan dapat diwariskan secara tepat dan tetap relevan bagi generasi berikutnya.
Selain menekankan pentingnya pemahaman budaya, Mas Abi mengajak seluruh keluarga besar Matra membangun persaudaraan yang dilandasi ketulusan, saling menghormati, dan kebersamaan.
“Sikap Matra harus ada di hati. Tidak ada iri dan tidak ada benci,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPD Matra Kota Surabaya, Eko Suwono, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya pelantikan. Ia secara khusus mengapresiasi jajaran DPW Matra Jawa Timur, Bakesbangpol, Disbudporapar Kota Surabaya, Polsek dan Koramil Bubutan, serta perwakilan Brigif Pasmar.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh pengurus DPD Matra Surabaya, panitia, dan peserta yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Berdasarkan Surat Keputusan DPW Matra Jawa Timur Nomor 21/SK-DPD/DPW MATRA JATIM/X/2026, Eko Suwono dipercaya menjabat sebagai Ketua DPD Matra Kota Surabaya untuk periode 2026–2031, didampingi Hari Poernomo, MA, sebagai wakil ketua.
Posisi sekretaris dijabat Zaenal Mahmudi dengan Dany Samsurya Kurniawan sebagai wakil sekretaris. Adapun jabatan bendahara diemban Sri Sumargiah Agustini, didampingi Lilla Asih Wulandari sebagai wakil bendahara.
Jajaran penasihat terdiri atas Yunus Karyanto, Sukariyo, dan Tjandra Sudarmanto. Sementara itu, unsur pelindung dalam susunan kepengurusan mencantumkan Wali Kota Surabaya, Kapolrestabes Surabaya, Komandan Kodim 0830 Surabaya, Kepala Kejaksaan Tinggi Surabaya, serta Ketua DPRD Kota Surabaya.
Adapun unsur pembina meliputi Kepala Bakesbangpol Kota Surabaya, Kepala Disbudporapar Kota Surabaya, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, dan Ketua PKK Kota Surabaya.
Dengan terbentuknya kepengurusan baru, Eko berharap Matra Surabaya dapat membangun kerja sama yang semakin kuat dengan pemerintah daerah, komunitas kebudayaan, serta berbagai elemen masyarakat.
Ia berharap program pelestarian adat tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui kegiatan nyata yang mampu memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada generasi muda, mempererat persatuan dalam keberagaman, dan menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan leluhur.
Pelantikan pengurus DPD Matra Kota Surabaya periode 2026–2031 ini menjadi momentum untuk memperkuat peran organisasi sebagai wadah pelestarian adat dan budaya. Dengan menjunjung tinggi independensi, mengedepankan pemahaman budaya yang bertanggung jawab, serta merawat persaudaraan, Matra diharapkan dapat berkontribusi dalam menjaga keberagaman dan memperkokoh identitas budaya Nusantara di Kota Pahlawan.
(Red)


