SURABAYA, INFOJALANAN.INFO – Posisi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak sekadar menjadi jabatan struktural. Di tengah dinamika organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Rais Aam memiliki peran penting dalam menjaga arah keulamaan, tradisi pesantren, sekaligus marwah jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Pandangan itu disampaikan mantan Wakil Ketua RMI PBNU sekaligus Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, yang akrab disapa Kiai Imjaz.
Menurut Kiai Imjaz, KH Miftachul Akhyar memiliki kapasitas untuk kembali mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031. Ia menilai kepemimpinan Kiai Miftachul Akhyar memiliki perpaduan antara kedalaman ilmu agama, kesederhanaan, ketegasan, serta pemahaman terhadap tata kelola organisasi.
“Kiai Miftachul Akhyar bukan hanya ulama karismatik. Beliau memiliki empat karakter penting, yakni aliman, faqihan, zuhudan, sekaligus memiliki kemampuan organisatoris,” ujar Kiai Imjaz.
Ilmu dan Fikih Menjadi Fondasi
Kiai Imjaz menilai kedalaman ilmu dan penguasaan fikih menjadi modal utama seorang Rais Aam. Menurut dia, Kiai Miftachul Akhyar memiliki perjalanan keilmuan yang panjang dan selama ini dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya.
Ia menyebut Kiai Miftach mampu membaca persoalan keumatan dengan pendekatan fikih yang kontekstual. Kemampuan tersebut, kata dia, penting agar keputusan organisasi tetap berpijak pada tradisi keilmuan pesantren sekaligus mampu menjawab perubahan zaman.
“Beliau tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu membaca persoalan umat sesuai konteksnya,” kata Kiai Imjaz.
Sederhana, tetapi Tegas
Selain kedalaman ilmu, Kiai Imjaz menyoroti sikap zuhud Kiai Miftachul Akhyar. Menurutnya, posisi strategis yang pernah diemban tidak membuat Kiai Miftach meninggalkan sikap sederhana dan bersahaja.
Kiai Imjaz melihat karakter tersebut menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun keteladanan di tengah warga Nahdliyin.
Di sisi lain, ia menilai Kiai Miftach juga memiliki karakter tegas ketika berhadapan dengan persoalan organisasi.
Kiai Imjaz menyebut Kiai Miftach konsisten menempatkan aturan organisasi, AD/ART, serta mekanisme kelembagaan sebagai pijakan dalam menjalankan jam’iyah.
“Ketegasan dan kedisiplinan beliau dalam menjaga aturan organisasi menjadi salah satu keunggulannya,” ujarnya.
Menempatkan Aturan Organisasi di Atas Kepentingan Pribadi
Kiai Imjaz menilai karakter organisatoris Kiai Miftach telah terlihat sejak memimpin struktur NU di tingkat daerah hingga pusat.
Menurutnya, Kiai Miftach tidak segan mengingatkan pengurus agar menjalankan amanah sesuai mekanisme organisasi. Sikap tersebut, kata dia, berangkat dari prinsip bahwa mengurus NU merupakan bentuk takzim kepada para muassis atau pendiri NU.
“Bagi beliau, mengurus NU bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi sebagai bentuk takzim kepada para muassis,” katanya.
Dalam dinamika internal PBNU, Kiai Imjaz juga menyinggung sejumlah keputusan organisasi yang melibatkan Kiai Miftachul Akhyar. Ia menilai keputusan-keputusan tersebut perlu dilihat dalam konteks mekanisme dan aturan organisasi yang berlaku.
Pandangan tersebut sekaligus menjadi alasan Kiai Imjaz menyebut Kiai Miftach sebagai sosok yang berusaha menjaga disiplin jam’iyah.
Sanad Keilmuan dan Amanah Para Masyayikh
Kiai Imjaz juga menyoroti hubungan keilmuan dan penghormatan Kiai Miftach terhadap para ulama sepuh NU.
Ia menyebut nama almaghfurlah KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen sebagai salah satu ulama yang memberikan perhatian terhadap perjalanan keulamaan Kiai Miftachul Akhyar.
Bagi Kiai Imjaz, dukungan dan doa para masyayikh memiliki makna penting dalam tradisi kepemimpinan pesantren dan NU.
“Doa Mbah Moen menjadi bagian dari sanad amanah yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan Kiai Miftach,” ujarnya.
Ia menilai karakter suyukhan dan rosikhan juga menjadi bagian penting dari kepemimpinan Kiai Miftach. Kedua karakter tersebut, menurutnya, tercermin dalam upaya menjaga keseimbangan antara kepentingan keumatan, kebangsaan, dan keberlangsungan organisasi.
Memilih Diam Menghadapi Polemik
Kiai Imjaz kemudian menyoroti sikap Kiai Miftachul Akhyar ketika menghadapi kritik, tudingan, maupun polemik yang berkembang di ruang publik.
Menurut dia, Kiai Miftach lebih memilih tidak membalas berbagai serangan secara terbuka.
“Saat banyak pihak menebar fitnah dan ujaran kebencian terhadap Rais Aam PBNU, beliau tidak pernah sekalipun menanggapi. Beliau memilih diam. Tidak ada instruksi untuk memobilisasi massa ataupun membalas serangan tersebut,” tegas Kiai Imjaz.
Menurutnya, sikap tenang tersebut menunjukkan karakter kepemimpinan ulama yang mengutamakan stabilitas organisasi dan menghindari konflik yang lebih luas.
Menjaga Marwah Jam’iyah
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Kiai Imjaz menilai terpilihnya kembali KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031 memiliki tanggung jawab besar.
Ia berharap kepemimpinan Kiai Miftach mampu menjaga persatuan warga Nahdliyin, memperkuat tradisi keilmuan pesantren, serta memastikan roda organisasi berjalan sesuai aturan.
“Dengan perpaduan kedalaman ilmu, kesederhanaan, pemahaman organisasi, ketegasan dan disiplin, serta amanah para masyayikh, Kiai Miftachul Akhyar memiliki modal kepemimpinan untuk menjaga stabilitas dan marwah jam’iyah NU,” pungkas Kiai Imjaz.
(Red)
