masukkan script iklan disini
SURABAYA, INFOJALANAN.INFO – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memastikan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menangani seluruh korban kericuhan konser yang berlangsung di kawasan eks Hi-Tech Mall, Surabaya.
Sebanyak 12 korban sempat mendapat perawatan di RSUD Soewandhie setelah insiden tersebut. Dari jumlah itu, dua korban mengalami patah tulang dan harus menjalani operasi.
Eri Cahyadi mengatakan, berdasarkan laporan dari RSUD Soewandhie, seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis. Sebagian besar korban menjalani pemeriksaan dan diperbolehkan pulang pada malam kejadian, sementara beberapa korban lainnya pulang keesokan harinya.
“Yang pasti, dari laporan teman-teman RSUD Soewandhie, ada 12 orang yang masuk ke rumah sakit. Sebagian besar langsung pulang malam itu juga, dan ada yang pulang pagi ini. Jadi semuanya sudah pulang. Hanya ada dua orang yang mengalami patah tulang dan memerlukan operasi,” kata Eri usai menghadiri rapat paripurna DPRD Surabaya.
Eri mengaku belum mengetahui secara detail kronologi kericuhan karena tidak berada di lokasi saat kejadian. Saat insiden berlangsung, ia tengah mendampingi kegiatan kementerian hingga dini hari.
Ia menyatakan akan meminta laporan lengkap dari Wakil Wali Kota Surabaya dan anggota DPRD Surabaya yang berada di lokasi untuk mengetahui rangkaian kejadian secara menyeluruh.
“Semalam saya tidak hadir di sana karena mendampingi kementerian sampai tadi pagi. Nanti saya tanyakan kejadiannya seperti apa,” ujarnya.
Pemkot Surabaya juga akan mengevaluasi penyelenggaraan konser tersebut. Evaluasi akan mencakup kondisi di lokasi, jumlah penonton, hingga kemungkinan banyaknya pengunjung yang datang dari luar Kota Surabaya.
“Evaluasi tetap akan kita lakukan. Nanti kita lihat juga apakah memang banyak pengunjung dari luar Surabaya,” kata Eri.
Menurut Eri, status konser yang digelar secara gratis tidak serta-merta menjadi penyebab kericuhan. Ia menyebut Pemkot Surabaya sebelumnya juga menggelar sejumlah kegiatan gratis dengan menerapkan mekanisme pembagian gelang bagi warga yang hadir.
“Tidak juga. Kegiatan-kegiatan seperti itu memang biasanya gratis. Sebelumnya juga sudah disiapkan sistem gelang untuk warga Surabaya yang datang. Tapi kemarin katanya sampai membludak. Makanya saya akan tanyakan kepada teman-teman yang ada di lapangan sebenarnya apa yang menjadi penyebab kejadian tersebut,” tuturnya.
Eri menegaskan Pemkot Surabaya akan menanggung penanganan medis terhadap dua korban yang mengalami patah tulang. Pemerintah kota juga memastikan biaya operasi kedua korban tersebut menjadi tanggung jawab Pemkot Surabaya.
“Yang mengalami patah tulang ada dua orang dan semuanya sudah dibantu oleh Pemerintah Kota Surabaya. Operasinya juga kita tangani,” tegasnya.
Pemkot Surabaya selanjutnya akan mengevaluasi penyelenggaraan kegiatan tersebut agar aspek keamanan, kapasitas lokasi, serta pengaturan jumlah pengunjung dapat menjadi perhatian dalam pelaksanaan kegiatan serupa.
(FRD)
