• Jelajahi

    Copyright © Info Jalanan
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Halaman

    Tragedi Gorong-Gorong Margorejo: Duka Mendalam Eri Cahyadi Kehilangan 'Keluarga Kampung Halaman' dan Janji Sanksi Tegas Vendor Proyek

    Senin, 15 Juni 2026, Juni 15, 2026 WIB Last Updated 2026-06-15T09:56:39Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    SURABAYA – Insiden kecelakaan maut di lokasi proyek infrastruktur Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga korban, namun juga menggoreskan luka emosional yang mendalam di hati Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.


    Tragedi yang merenggut nyawa Laila Endriati (69) pada Jumat (12/6/2026) malam tersebut menjadi sangat personal bagi orang nomor satu di Surabaya ini. Pasalnya, korban merupakan sosok dekat sekaligus kerabat lama yang ikut mewarnai masa kecil sang wali kota di tanah kelahirannya.


    Air Mata Wali Kota di Rumah Duka Kampung Kawatan suasana haru menyelimuti Jalan Kawatan VII, Kecamatan Bubutan, Surabaya, pada Sabtu (13/6/2026) malam, saat rombongan Wali Kota Eri Cahyadi tiba untuk bertakziah. Mata wali kota dua periode itu tampak berkaca-kaca saat melangkah memasuki rumah duka.


    Bagi Eri, Kampung Kawatan bukan sekadar deretan alamat di peta geografis Surabaya, melainkan tempat ia dilahirkan, tumbuh, dan membentuk akar sosialnya. Didampingi sang istri, Rini Indriani, Eri yang malam itu mengenakan busana gamis usai menggelar tasyakuran haji (Walimatus Hajj) di kediamannya, memilih langsung meluncur ke lokasi tahlilan demi memberikan penghormatan terakhir kepada almarhumah.


    “Kampung Kawatan ini memiliki ikatan kekeluargaan yang luar biasa erat. Saya lahir di sini, dan di antara orang-orang yang ikut mengasuh serta membesarkan saya sejak kecil adalah Mbak Endri (almarhumah) dan Cak Sera. Ini adalah duka keluarga kami,” kenang Eri Cahyadi dengan nada bergetar di hadapan para pelayat.


    Eri mengaku baru mendengar kabar duka tersebut pada Sabtu pagi saat dirinya tengah menerima tamu silaturahmi kepulangan dari Tanah Suci. Rasa terkejutnya berlipat ganda begitu mengetahui bahwa hilangnya nyawa sang kerabat berkaitan langsung dengan proyek pengerjaan saluran air milik Pemkot Surabaya.

    Eri Cahyadi: "Pembangunan Tak Boleh Mengorbankan Nyawa Warga!"

    Di hadapan suami korban dan keluarga besar Kawatan, Eri Cahyadi menyampaikan permohonan maaf yang mendalam atas nama Pemerintah Kota Surabaya. Sembari memeluk erat anggota keluarga yang terpukul, ia berjanji akan melakukan evaluasi total dan menyeluruh terhadap kinerja jajarannya serta pihak kontraktor.


    Meskipun hasil investigasi awal menunjukkan adanya tiga unit water barrier (pembatas jalan) berwarna oranye di sekitar area bibir lubang, namun pemasangannya dinilai terlalu renggang sehingga menyisakan celah terbuka di bagian tengah. Celah maut inilah yang diduga kuat menjadi titik masuknya sepeda motor korban.


    Wali kota menegaskan, dirinya tidak akan segan menjatuhkan sanksi hukum dan administratif yang berat jika ditemukan unsur kelalaian terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan kerja.

    “Pembangunan untuk menyelesaikan banjir di kota ini memang wajib dijalankan, tetapi tidak boleh ada satu pun nyawa warga Kota Surabaya yang dikorbankan demi proyek tersebut,” tegas Eri.


    Eri juga meminta bantuan mendalam dari seluruh lapisan masyarakat untuk ikut mengawasi jalannya proyek-proyek Pemkot di jalanan. Ia mengimbau warga Surabaya agar segera melaporkan via hotline pribadinya jika menemukan proyek galian yang minim penerangan atau tanpa rambu pengaman yang layak, guna mencegah tragedi serupa terulang kembali.


    Kronologi Malam Kelam di Sisi Barat Plaza Marina berdasarkan data dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya, petaka ini menimpa pasangan suami istri (pasutri) lansia, Edy Parlin (65) dan Laila Endriati (69), pada Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 19.45 WIB.


    Malam itu, keduanya tengah berboncengan mengendarai sepeda motor bebek Honda Supra X dengan nomor polisi L 5478 AAE, menyusuri Jalan Margorejo Indah, Kecamatan Wonocolo, tepatnya di sisi barat pusat perbelanjaan Plaza Marina.


    "Kondisinya memang sangat gelap saat itu. Motor melaju lurus dari timur, karena gelap pembatas water barrier-nya tidak kelihatan jelas. Pengendara sepertinya kaget, sempat mencoba mengerem tapi ban motor slip karena ada pasir proyek di jalanan, hingga akhirnya terjungkal masuk ke dalam lubang," ujar Nanang saat dikonfirmasi oleh Media Infojalanan.info.


    Menurut kesaksian Nanang Budi Santoso (44), seorang petugas parkir minimarket di sekitar lokasi, pasutri tersebut sedang melaju dari arah timur menuju ke barat (arah Jalan Ahmad Yani). Situasi jalanan di sekitar area proyek pengerjaan gorong-gorong beton (box culvert) sedalam 2,5 meter itu terpantau sangat gelap akibat minimnya lampu penerangan jalan umum (PJU).

    Evakuasi dramatis satu jam di kegelapan dua bilah susunan beton raksasa berdiameter lima meter yang mengalirkan air pekat kehitaman menuju rumah pompa menjadi saksi bisu ambruknya pasutri tersebut. Benturan keras dengan material beton membuat sang istri, Laila Endriati, langsung tak sadarkan diri di dasar kubangan. Sementara sang suami, Edy Parlin, mengalami luka-luka namun tetap dalam kondisi sadar.


    Warga dan pengendara lain yang berada di lokasi sempat mencoba melakukan penyelamatan darurat menggunakan tali tampar, namun terkendala oleh dalamnya lubang dan medan yang gelap gulita. Korban terjebak selama hampir satu jam di dalam lubang sebelum akhirnya tim kedaruratan dari BPBD Kota Surabaya tiba di lokasi untuk melakukan evakuasi taktis.


    Petugas keamanan mal berinisial SO menceritakan betapa memilukannya momen pasca-evakuasi tersebut. Saat tubuh Laila berhasil diangkat ke permukaan, tim medis memastikan bahwa denyut nadi korban sudah terhenti akibat luka parah di kepala.


    "Suaminya (Edy) semula menolak dievakuasi ke atas karena ingin terus memegangi istrinya di dalam air. Begitu jasad istrinya berhasil diangkat dan tim medis menyatakan sudah meninggal dunia, di situlah sang suami menangis sejadi-jadinya meratapi istrinya," kata SO kepada wartawan. Setelah operasi evakuasi rampung, petugas BPBD langsung menambah barikade water barrier guna menutup total celah lubang yang menganga.


    Tatapan kosong Edy Parlin di kamar jenazah kegetiran tak berakhir di lokasi kejadian. Sekitar pukul 22.30 WIB di Kamar Mayat RS Bhayangkara Surabaya, Edy Parlin tampak terduduk lesu di samping ranjang tempat jenazah sang istri dibaringkan. Kedua tangannya mencengkeram erat besi ranjang, sementara pandangannya menatap kosong ke arah tubuh kaku belahan jiwanya.


    Sesekali bibir pria lansia itu tampak bergerak-gerak melantunkan kalimat panjang, seolah-olah ia masih berada di atas motor dan melanjutkan obrolan hangat yang terputus di tengah jalan beberapa jam sebelumnya. Kepada Media Infojalanan.info, Edy dengan suara parau menceritakan bahwa malam itu mereka dalam perjalanan pulang ke rumah setelah melakukan pemeriksaan medis rutin di RS Islam (RSI) Jemursari.


    "Kami berdua sepanjang jalan mengobrol santai, motor saya jalankan pelan-pelan sekali karena kami sudah sama-sama tua. Jalanan itu lurus, tidak ada belokan, tapi tiba-tiba di depan itu gelap gulita. Saya tidak melihat ada lubang," ucap Edy lirih di teras kamar mayat.


    Edy mengingat jelas detik-detik saat motornya terjungkal dan berbalik menindih tubuhnya di dasar gorong-gorong. Dalam kondisi terjepit material motor dan dinginnya air, ia mengabaikan rasa sakitnya sendiri demi mencari keberadaan sang istri.


    "Begitu saya sadar berada di dalam lubang, saya langsung cari istri saya. Saya panggil 'Ma, Ma...', tapi tidak ada jawaban. Ternyata tubuh saya tertindih kendaraan. Baru setelah orang-orang berdatangan memakai senter HP, istri saya ditemukan terbentur cor-coran semen," pungkas Edy sembari menyeka sisa air matanya.


    Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi pengawasan proyek infrastruktur di Kota Surabaya. Satu celah pengamanan yang renggang serta kelalaian dalam penyediaan lampu penerangan, telah terbukti mampu memadamkan satu nyawa dan meremukkan hati sebuah keluarga di lingkaran terdekat sang pembuat kebijakan.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini