BANYUWANGI, Infojalanan.info
– Suasana Taman Blambangan Banyuwangi berubah menjadi lautan manusia saat ribuan warga memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit dalam rangka menyongsong Hari Bhayangkara ke-80. Acara yang berlangsung hingga menjelang subuh itu menghadirkan dalang kondang asal Solo, Ki MPP Bayu Aji Pamungkas, yang sukses memukau penonton melalui lakon bertajuk “Pandawa Bangun Praja”.
Putra maestro pedalangan nasional almarhum Ki Anom Suroto tersebut tampil enerjik dan penuh penghayatan. Dengan kepiawaiannya memainkan sabetan wayang serta membangun komunikasi dengan penonton, Ki Bayu Aji berhasil menjaga antusiasme ribuan warga yang memadati Taman Blambangan sejak malam hingga dini hari.
Pagelaran budaya yang digelar atas inisiasi Polda Jawa Timur itu turut dihadiri Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan, Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, Ketua MUI Banyuwangi KH Muhaimin Asymuni, jajaran Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, pegiat seni budaya, hingga organisasi kemasyarakatan dan mahasiswa.
Sebelum pertunjukan dimulai, digelar prosesi simbolis pelepasan kupat luar sebagai wujud rasa syukur atas terpenuhinya nazar, yang dilanjutkan dengan pelepasan 17 ekor burung merpati sebagai simbol perdamaian dan persatuan. Prosesi tersebut menjadi pembuka yang sarat makna sebelum wayang kulit dimainkan.
Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto kemudian menyerahkan tokoh wayang Werkudoro kepada Ki Bayu Aji sebagai simbol dimulainya pagelaran. Tak lama berselang, suara gamelan mulai mengalun dan pertunjukan budaya khas Nusantara itu resmi dimulai di hadapan ribuan pasang mata yang memadati area pertunjukan.
Dalam sambutannya, Kapolda Jatim menegaskan bahwa pagelaran wayang kulit bukan sekadar hiburan, melainkan sarana edukasi, refleksi, dan penguatan nilai-nilai kebangsaan. Menurutnya, lakon Pandawa Bangun Praja memiliki pesan moral yang sangat relevan dengan semangat pengabdian Polri kepada masyarakat.
“Tokoh Pandawa menggambarkan perjuangan menegakkan keadilan, kebenaran, dan pengorbanan untuk kepentingan rakyat. Nilai-nilai itu sejalan dengan semangat Hari Bhayangkara ke-80 dan komitmen bersama dalam menjaga keamanan serta kedamaian Jawa Timur,” ujar Kapolda.
Kemeriahan acara semakin terasa dengan penampilan seniman lokal Banyuwangi seperti Catur Arum dan maestro Gandrung Temu Misti. Selain itu, duet pelawak Gandu dan Pentol sukses mengundang gelak tawa penonton saat mengisi sesi limbukan dan goro-goro.
Panitia juga menyiapkan ratusan door prize menarik untuk masyarakat yang hadir, mulai dari kipas angin, setrika listrik, blender hingga hadiah utama berupa satu unit sepeda motor dan dua motor listrik. Kehadiran berbagai hadiah tersebut semakin menambah antusiasme warga yang datang dari berbagai penjuru Banyuwangi.
Pada salah satu sesi pertunjukan, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan turut naik ke atas panggung membawakan lagu legendaris Nyidam Sari. Penampilannya yang diiringi lawakan khas Gandu dan Pentol mendapat sambutan meriah dari penonton.
Dalam kesempatan itu, Kapolresta mengajak masyarakat untuk terus mencintai dan melestarikan budaya bangsa sebagai identitas yang tidak boleh tergerus oleh perkembangan zaman. Menurutnya, wayang kulit merupakan warisan budaya adiluhung yang sarat dengan nilai-nilai moral, keteladanan, dan kebijaksanaan hidup.
Pagelaran wayang kulit ini menjadi bukti bahwa seni budaya mampu menjadi ruang pemersatu berbagai elemen masyarakat. Selain mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat, kegiatan tersebut juga menjadi sarana menjaga warisan budaya Nusantara agar tetap hidup dan dicintai generasi muda.
(Yan)
