• Jelajahi

    Copyright © Info Jalanan
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Halaman

    Akademisi Soroti Studi Kelayakan Kereta Cepat China, ICW Nilai Perencanaan Whoosh Sejak Awal Sudah Bermasalah

    Redaksi
    Jumat, 14 November 2025, November 14, 2025 WIB Last Updated 2025-11-14T03:34:11Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini



    Jakarta, infojalanan.info -


    Polemik pembengkakan biaya atau cost overrun proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh kembali mencuat setelah nilai kelebihan anggaran mencapai 1,21 miliar dolar Amerika atau sekitar Rp19,96 triliun. Sejumlah pengamat menilai akar masalahnya terletak pada metodologi studi kelayakan dan kesiapan perencanaan proyek sejak awal.


    Akademisi Nanyang Technological University (NTU), Sulfikar Amir, menilai pembengkakan biaya tak terhindarkan karena studi kelayakan yang dilakukan pihak China dinilai tidak berbasis penelitian lapangan atau riset empirik.


    Menurut Sulfikar, China hanya membutuhkan tiga bulan untuk menyusun studi kelayakan, dan proses tersebut sangat bergantung pada hasil studi Jepang yang sebelumnya melakukan survei langsung selama empat tahun terkait rencana proyek kereta cepat di Indonesia.


    “Mereka mempelajari studi Jepang lalu membuat proposal baru berdasarkan itu. Mereka tidak turun langsung, tidak melakukan survei, tidak melakukan pengukuran lapangan,” ujar Sulfikar dalam podcast Forum Keadilan TV, Kamis (13/11/2025).


    Ia menilai pendekatan itu melahirkan perhitungan yang tidak akurat, termasuk dalam merancang rute serta estimasi biaya.


    “Proposal yang disusun seolah menawarkan biaya lebih murah dari Jepang, tetapi dasarnya tidak kuat karena tidak ada data empirik,” jelasnya.


    Sulfikar menekankan bahwa studi yang tidak berbasis kerja lapangan membuat perhitungan awal menjadi meleset jauh. Akibatnya, pembengkakan anggaran terjadi ketika proyek sudah berjalan.


    “Wajar saja kalau hitungannya tidak tepat. Jepang pun bisa mengalami cost overrun, tapi angkanya terbatas karena surveinya lengkap,” kata dia.


    Ia menyebut bahwa survei lapangan justru dilakukan China setelah proyek dimulai, sehingga beberapa penyesuaian teknis muncul belakangan dan berdampak pada kebutuhan biaya tambahan.


    Di sisi lain, Indonesia Corruption Watch (ICW) juga menilai bahwa persoalan biaya Whoosh tak lepas dari lemahnya persiapan sejak tahap perencanaan.


    Peneliti ICW, Almas Sjafrina, menyatakan bahwa pemerintah seharusnya memikirkan skema pembayaran, proyeksi pendapatan, dan kelayakan proyek secara komprehensif sebelum proyek dimulai.


    “Yang bikin bingung, kenapa sekarang baru dipikirkan bagaimana cara membayar utangnya? Itu harusnya sudah dipetakan sejak awal,” kata Almas dalam podcast Bambang Widjojanto, Selasa (11/11/2025).


    Menurutnya, ketidakmatangan perencanaan menyebabkan proyeksi pendapatan KCJB meleset dari perkiraan yang awalnya diharapkan mampu menopang pembayaran ke pihak China.


    “Masalah utamanya ada pada perencanaan. Kalau perencanaannya matang, separuh pekerjaan sudah selesai bahkan sebelum konstruksi dimulai,” tegasnya.


    Baik akademisi maupun pegiat antikorupsi menilai bahwa pembengkakan biaya Whoosh merupakan kombinasi dari studi kelayakan yang tidak memadai dan perencanaan awal yang terburu-buru. Polemik ini diprediksi masih akan menjadi sorotan publik menyusul beban finansial yang harus ditanggung negara serta konsorsium pengelola.


    (Yanto)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini