• Jelajahi

    Copyright © Info Jalanan
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Halaman

    Di Balik Riuh Pleno Ploso: Menjaga Marwah NU dan Kedekatan Emosional Khas Khittah Pesantren

    Rabu, 24 Juni 2026, Juni 24, 2026 WIB Last Updated 2026-06-24T06:57:29Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    KEDIRI, INFOJALANAN.INFO – Ruang sidang Pleno Komisi Organisasi Munas-Konbes NU di Ponpes Al Falah Ploso pertengahan pekan ini sempat diuji oleh riak-riak kecil. Sebuah kekeliruan teknis dari pimpinan sidang yang mendadak "mengetok palu" nama Ponpes Lirboyo sebagai tuan rumah Muktamar NU ke-35—tanpa lewat proses survei empat wilayah rekomendasi—sempat memancing emosi spontan dari lantai sidang.


    Namun, benteng ketenangan itu seketika tegak kembali saat Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, dengan arif meluruskan kompas organisasi di atas panggung pleno.


    Sayangnya, riak organisasi yang sebenarnya telah selesai secara musyawarah dan tabayun di hadapan para Kyai Sepuh itu, justru digoreng secara liar oleh akun-akun anonim di media sosial. Muncul tudingan keji seolah-olah ada faksi di NU yang menolak Ponpes Lirboyo. Padahal, fakta di draf sidang Komisi Organisasi sama sekali tidak menuliskan penolakan tersebut.


    Ikatan Batin yang Tak Bisa Digoreng Medsos bagi kalangan Nahdliyin yang paham struktur sosiologis pesantren, Lirboyo adalah menara spiritual yang dihormati secara mutlak. Kedekatan para santri dan keturunan tokoh NU dengan Pengasuh Ponpes Lirboyo, Syaikhona KH Anwar Manshur, terikat oleh sanad keilmuan dan sejarah yang teramat panjang, jauh melebihi hiruk-pikuk politik muktamar.


    Halim, salah satu kader NU yang juga dosen di Jakarta, membagikan cerita emosionalnya mengenai bagaimana ia memegang teguh dawuh (nasihat) langsung dari KH Anwar Manshur sejak tahun 2007.


    "Simbah KH Anwar Manshur mengenal dekat keluarga kami sejak kakek saya (Humaidi Sholeh) hingga ibunda saya. Beliau pernah berpesan kepada saya, 'Halim, warisilah jejak kakekmu yang dulu di Mesir dan ikut mengurus NU di PBNU. Kalau belum mampu 100%, minimal 50%.' Saya menggigil mendengar dawuh itu," kenang Halim.


    Hubungan kultural inilah yang melahirkan rasa prihatin mendalam di kalangan warga NU. Jika Muktamar ke-35 pada akhirnya nanti benar-benar diputuskan di Lirboyo setelah melalui tahapan verifikasi resmi PBNU, hal itu akan disambut dengan sukacita yang besar oleh seluruh elemen santri sebagai momentum tabarukan (mencari berkah) kepada para pendiri Lirboyo.


    Mempertanyakan Skenario di Luar Pagar Pesantren melihat riuh rendah di media sosial, muncul kejanggalan yang patut dipertanyakan: "Mengapa pihak-pihak yang tidak pernah mengecap pendidikan di Lirboyo, bahkan tidak memiliki kedekatan dengan para masyayikh Kediri, justru menjadi pihak yang paling agresif berteriak di media sosial agar Muktamar harus dipaksa bertempat di sana?" Ujarnya 


    Fenomena "teriakan yang menggebu-gebu" dari pihak luar ini memicu tafsir lain di akar rumput. Ada kekhawatiran bahwa nama besar dan keluhuran Ponpes Lirboyo serta ketokohan KH Anwar Manshur (yang juga Mustasyar PBNU) sengaja dimanfaatkan oleh oknum-oknum ambisius untuk kepentingan pragmatis kelompok tertentu guna menekan kebijakan organisasi.


    Pada akhirnya, kesaksian dari Ploso ini menjadi pengingat penting. Menjaga marwah NU berarti menjaga kejujuran informasi. Organisasi ulama ini harus diselamatkan dari cara-cara pemaksaan kehendak yang memalukan, agar keteduhan para masyayikh tetap menjadi payung spiritual yang bersih dari syahwat kekuasaan.


    (Fr)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini