Banjarmasin, infojalanan.info – Advokat dari JL Law Office, Anel Haddad, kembali menyoroti perdebatan hangat yang muncul menyusul hadirnya karya film berjudul Pesta Babi. Dalam pernyataannya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (16/5), ia menegaskan bahwa semangat dan idealisme anak bangsa dalam berinovasi serta cara berpikir baru tidak boleh dikangkangi atau dibatasi secara sempit. Lebih jauh, Anel juga mempertanyakan ketimpangan reaksi masyarakat yang terlihat begitu besar terhadap sebuah karya seni, namun berbeda sikap terhadap masalah nyata yang merugikan bangsa.
Anel menyoroti fenomena yang menurutnya sangat ironis. Ia mempertanyakan, mengapa hal ini justru menjadi isu yang digembar-gemborkan sedemikian rupa, padahal masalah besar yang nyata merusak negeri justru jarang mendapatkan sorotan atau kritik yang sekuat ini.
"Bagaimana nasib para koruptor yang merugikan uang negara triliunan rupiah? Bagaimana dengan peredaran narkoba yang mematikan masa depan generasi bangsa? Apakah selama ini pernah ada yang mengkritik, bersuara, atau menjadikannya isu sebesar dan seheboh ini? Nyatanya, kita melihat hal yang sebaliknya. Masalah nyata yang menghancurkan bangsa justru seringkali dibiarkan atau hanya sekadar menjadi berita sesaat, tapi sebuah karya seni malah dipermasalahkan berlebihan," tegas Anel.
Menurut pandangannya, jika dilihat lebih dalam, film ini sejatinya bukan sekadar tontonan biasa. Ia menilai karya tersebut memuat pesan yang sangat dalam dan merupakan bentuk kritik yang tajam serta pedas.
"Setelah saya mencoba memahami isi dan konteksnya, saya berpendapat bahwa film ini sesungguhnya adalah kritik pedas yang ditujukan bagi para penjajah di era perjuangan kemerdekaan. Ini adalah bentuk refleksi sejarah dan pemikiran kritis yang dikemas lewat seni. Justru di sinilah letak kecerdasan dan inovasi berpikir anak bangsa yang harus kita hargai, bukan kita bantai atau kita batasi," tambahnya.
Anel menegaskan, kehadiran karya seperti ini membuktikan bahwa anak bangsa masih memiliki kepekaan sejarah dan keberanian untuk menyampaikan pesan, meski dengan cara yang berbeda dan baru. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar ruang berpikir generasi muda tidak dipersempit.
"Jangan pernah kita kangkangi atau batasi idealisme anak bangsa dalam berinovasi dan berpikir. Selama masih dalam koridor seni, budaya, dan tidak melanggar hukum yang berlaku, biarkan pesan itu tersampaikan. Jangan sampai kita lebih sibuk menilai karya seni, namun membiarkan luka nyata bangsa terus menganga tanpa perhatian yang layak," ujarnya menutup pernyataan.
Ia kembali mengingatkan kepada seluruh pihak untuk melihat konteks secara utuh dan objektif, serta membedakan antara karya seni yang bermuatan pesan, dengan tindakan nyata yang jelas-jelas merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.
(Anel haddad)


