masukkan script iklan disini
Infojalanan.info
– Isu kesejahteraan guru honorer kembali menyita perhatian publik setelah sebuah video yang menampilkan nominal gaji tenaga pendidik menjadi viral di media sosial. Unggahan tersebut memantik diskusi luas soal nasib guru honorer yang hingga kini masih hidup jauh dari kata layak.
Video itu diunggah oleh akun Instagram @qrrtayn25, Senin (2/2/2026), memperlihatkan seorang guru honorer asal Blitar, Jawa Timur, membuka amplop gaji bulan Januari 2026. Dalam video berdurasi sekitar 40 detik, tampak ia menghitung uang pecahan kecil yang jika dijumlahkan hanya mencapai Rp144.000.
Dalam keterangannya, guru honorer tersebut menyebut gaji itu sebagai “gaji pertama di tahun 2026”. Unggahan tersebut pun langsung menyedot perhatian warganet dan ditonton ratusan ribu kali.
Melalui kolom komentar, ia menjelaskan bahwa unggahan itu bukan bertujuan mengeluh semata, melainkan sebagai bentuk penyampaian kondisi nyata yang dialami banyak tenaga pendidik honorer di Indonesia.
Ia berharap, dengan ramainya perbincangan di media sosial, suara guru honorer dapat terdengar hingga ke para pengambil kebijakan. Menurutnya, banyak pendidik yang akhirnya memilih bersuara karena kondisi yang terus berulang tanpa kejelasan solusi.
Respons warganet pun mayoritas bernada dukungan. Banyak yang menilai unggahan tersebut sebagai cerminan keprihatinan bersama dan menjadi pengingat bagi pemerintah terkait pentingnya kesejahteraan pendidik.
Sejumlah komentar menyebut bahwa persoalan ini bukan sekadar soal angka, melainkan bentuk penghargaan terhadap peran guru dalam mencerdaskan generasi bangsa. Ada pula yang menilai keberanian guru honorer tersebut patut diapresiasi karena membuka mata publik.
Sorotan terhadap guru honorer juga sebelumnya muncul di parlemen. Seorang guru honorer asal Bekasi, Indah Permata Sari, menyampaikan langsung keluhannya dalam rapat dengar pendapat bersama DPR RI. Ia mengungkapkan kesulitan hidup sebagai guru honorer akibat namanya yang belum terdata dalam sistem Dapodik.
Kondisi tersebut membuatnya tertinggal berbagai informasi penting, termasuk seleksi PPPK, hingga dihantui kekhawatiran kehilangan pekerjaan. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Indah mengaku harus bekerja sambilan di luar jam mengajar.
Rentetan peristiwa ini kembali menegaskan bahwa persoalan guru honorer bukan isu baru. Publik pun berharap, suara yang kini menggema dari media sosial hingga gedung DPR dapat menjadi dorongan nyata bagi pemerintah untuk menghadirkan kebijakan yang lebih adil dan berpihak pada kesejahteraan pendidik.
(Yanto)
