Sidoarjo, infojalanan.info – Tradisi Ruwat Dusun Legok kembali digelar dengan penuh khidmat dan kemeriahan pada tahun 2026. Ribuan warga tumpah ruah mengikuti rangkaian kegiatan yang menjadi agenda tahunan masyarakat Dusun Legok, Kecamatan Sukodono, Kabupaten . Tradisi ini bukan sekadar seremoni budaya, melainkan wujud syukur sekaligus doa bersama demi keselamatan, keberkahan, dan keharmonisan lingkungan.
Sejak pagi hari, warga dari berbagai kalangan telah berkumpul untuk mengikuti arak-arakan gunungan hasil bumi. Gunungan yang berisi aneka sayur, buah, dan hasil panen tersebut menjadi simbol kemakmuran serta rasa terima kasih kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan. Dengan penuh semangat gotong royong, masyarakat mengarak gunungan mengelilingi dusun sebelum akhirnya didoakan bersama.
Suasana semakin khidmat saat doa bersama dipimpin para tokoh agama dan sesepuh desa. Nama leluhur, termasuk Mbah Sari yang diyakini sebagai cikal bakal dusun, turut disebut dalam doa sebagai bentuk penghormatan atas warisan nilai dan tradisi yang terus dijaga hingga kini. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kemajuan zaman tidak boleh menghapus akar budaya dan identitas masyarakat.
Tidak hanya sarat makna spiritual, Ruwat Dusun Legok juga menjadi ajang kebersamaan lintas generasi. Sekitar empat ribu warga diperkirakan hadir memeriahkan kegiatan tersebut. Anak-anak, pemuda, hingga orang tua tampak berbaur tanpa sekat, menunjukkan kuatnya ikatan sosial di tengah masyarakat.
Pada malam harinya, panggung hiburan rakyat menambah semarak suasana. Pertunjukan ludruk khas Jawa Timur dan hiburan dangdut disambut antusias warga. Gelak tawa dan tepuk tangan penonton menjadi bukti bahwa tradisi dapat berjalan selaras dengan hiburan modern tanpa kehilangan nilai sakralnya.
Kepala dusun setempat menyampaikan bahwa Ruwat Dusun bukan sekadar agenda rutin, tetapi simbol persatuan dan semangat menjaga keharmonisan lingkungan. Ia berharap tradisi ini terus dilestarikan agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai budaya leluhur.
Melalui Ruwat Dusun Legok 2026, masyarakat kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga warisan budaya, memperkuat gotong royong, serta merawat harmoni sosial di tengah arus globalisasi. Tradisi yang terus hidup ini menjadi bukti bahwa kebersamaan adalah kekuatan utama dalam membangun desa yang rukun dan sejahtera.
(Abie)



