SURABAYA, INFOJALANAN.INFO - Paguyuban Semedi Mukti Wibawa (PSMW) kembali menggelar kegiatan Semedi Napak Tilas sebagai bentuk penghayatan spiritual sekaligus pelestarian sejarah dan budaya Nusantara. Mengusung tema "Laku Hening, Laku Suci, Menyusuri Jejak Spiritual Raja Airlangga", kegiatan ini mengajak peserta memahami nilai-nilai luhur peninggalan leluhur melalui perjalanan ke sejumlah situs bersejarah.
Napak tilas dimulai dari Petirtaan Jolotundo di Mojokerto, dilanjutkan ke Candi Belahan di Pasuruan, dan berakhir di Arca Joko Dolog di Surabaya. Ketiga lokasi tersebut dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah dan spiritual Raja Airlangga serta Kerajaan Kahuripan.
Di setiap lokasi, peserta mengikuti rangkaian kegiatan berupa pemaparan sejarah dan kebudayaan, semedi suci, mandi suci di lokasi yang diperbolehkan, serta ramah tamah untuk mempererat tali persaudaraan antarpeserta. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan penuh khidmat sebagai wujud penghormatan terhadap warisan budaya dan nilai-nilai spiritual Nusantara.
Materi sejarah dan kebudayaan disampaikan oleh Khoirul Anam, S.H., yang juga menjadi pembina kegiatan. Ia mengulas filosofi peninggalan Raja Airlangga, pentingnya menjaga situs cagar budaya, serta mengajak peserta menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran dan inspirasi dalam kehidupan.
Ketua Pelaksana Excandra DM, S.H. mengatakan bahwa Semedi Napak Tilas merupakan perjalanan batin untuk membangun ketenangan jiwa, menyucikan hati, serta memperkuat rasa cinta terhadap budaya bangsa. Menurutnya, kegiatan ini menjadi sarana menyelaraskan nilai spiritual dengan semangat menjaga peninggalan leluhur.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Semedi Mukti Wibawa, KNA Ragil H., S.Pd., berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai media edukasi sejarah, penguatan spiritual, dan pelestarian budaya bagi masyarakat luas.
Melalui Semedi Napak Tilas, PSMW menegaskan komitmennya untuk ikut menjaga kelestarian situs-situs cagar budaya sebagai warisan bangsa yang memiliki nilai sejarah, spiritual, dan kemanusiaan. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat agar semakin mencintai, merawat, dan menghormati warisan leluhur sebagai bagian dari jati diri bangsa Indonesia.
Salam Rahayu.
Heneng – Hening – Henung.
(Redaksi)




