Infojalanan.info
– Dua bulan pascabencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh, upaya pemulihan masih terus berlangsung. Lumpur tebal yang mengendap di permukiman warga menjadi pekerjaan rumah besar, terutama karena bulan suci Ramadan kian mendekat.
Sejumlah daerah seperti Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Pidie Jaya, dan Gayo Lues hingga kini masih berada dalam status tanggap darurat yang diperpanjang sampai 22 Januari 2026. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak bencana belum sepenuhnya teratasi dan masih memerlukan penanganan intensif.
Di berbagai titik, lumpur bekas banjir masih menutup jalan, halaman, hingga bagian dalam rumah warga. Aktivitas pembersihan pun dilakukan secara gotong royong, melibatkan warga, relawan, serta penggunaan alat berat seperti eskavator dan truk pengangkut.
Kondisi terkini tersebut terlihat dari sejumlah unggahan relawan di media sosial. Dalam video yang beredar, alat berat tampak dikerahkan untuk mengeruk lumpur di kawasan permukiman, sementara warga membantu memindahkan lumpur lembek yang licin agar rumah mereka kembali bisa ditempati.
Beberapa rumah dilaporkan sempat tertimbun lumpur hingga melewati tinggi tiang bangunan. Namun perlahan, upaya pembersihan mulai menunjukkan hasil. Rumah yang sebelumnya nyaris tak terlihat kini mulai tampak kembali setelah dilakukan pengerukan intensif selama beberapa hari.
Harapan warga pun sederhana, yakni bisa kembali menempati rumah dan menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang. Bulan suci yang identik dengan kebersihan lahir dan batin itu menjadi motivasi tersendiri bagi warga untuk terus berjuang membersihkan sisa-sisa bencana.
Pemerintah pusat sebelumnya juga menaruh perhatian pada percepatan pemulihan di Aceh. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menekankan pentingnya pembersihan lumpur sebelum Ramadan, sekaligus mendorong penambahan personel dan alat berat untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Selain fokus pada area permukiman, pembersihan juga diarahkan ke sungai-sungai yang mengalami pendangkalan akibat material banjir. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah bencana susulan sekaligus mempercepat pemulihan lingkungan.
Dengan waktu yang tersisa menjelang Ramadan 1447 Hijriah, warga dan pemerintah berharap proses pembersihan dapat berjalan maksimal. Semangat gotong royong yang terus terjaga menjadi kekuatan utama dalam memulihkan Aceh dari luka bencana, sekaligus menyambut bulan suci dengan harapan dan ketabahan.
Pewarta : Yanto
