Jakarta, infojalanan.info -
Menjelang peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 November 2025, nama Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali menjadi sorotan publik setelah masuk dalam daftar tokoh yang diusulkan mendapat gelar Pahlawan Nasional.
Ketua Umum PKB sekaligus Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menilai, usulan tersebut bukan sekadar bentuk penghargaan, melainkan pengakuan terhadap jasa besar Gus Dur dalam menegakkan demokrasi dan nilai kemanusiaan di Indonesia.
“Kalau hari ini demokrasi kita tumbuh kuat, itu tidak lepas dari perjuangan Gus Dur. Beliau bukan hanya presiden, tapi guru bangsa yang mengajarkan arti kebebasan berpikir dan berkeyakinan,” ujar Cak Imin saat menutup Musabaqoh Qiraatil Kutub Nasional (MQKN) di Jakarta, Minggu (9/11).
Menurut Cak Imin, kekuatan demokrasi Indonesia tak lepas dari nilai-nilai pesantren yang menjadi landasan pemikiran Gus Dur.
“Pesantren itu sumber kearifan. Gus Dur menjadikan tradisi pesantren sebagai rujukan dalam memaknai kebebasan, kesetaraan, dan kemanusiaan. Tanpa itu, demokrasi kita mungkin kering makna,” tuturnya.
Ia juga berpesan agar generasi muda, khususnya para santri, ikut bertanggung jawab menjaga kualitas demokrasi di Indonesia agar tetap berpihak pada kemanusiaan dan keadilan sosial.
Saat disinggung mengenai polemik munculnya nama Soeharto dalam daftar calon penerima gelar Pahlawan Nasional tahun ini, Cak Imin enggan menanggapi lebih jauh.
“Saya rasa biar prosesnya berjalan sesuai mekanisme Dewan Gelar. Kita tunggu saja hasilnya. Saya tidak dalam kapasitas menentukan siapa yang layak atau tidak,” tegasnya.
Di sisi lain, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) memastikan bahwa pengumuman resmi penerima gelar Pahlawan Nasional akan dilakukan pada Senin, 10 November 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.
“Prosesnya panjang, berjenjang dari daerah hingga pusat. Semua nama yang lolos ke Presiden sudah melalui kajian mendalam oleh Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan,” jelas Gus Ipul.
Ia membenarkan bahwa baik Soeharto maupun Gus Dur termasuk dalam daftar nama yang diusulkan, namun belum dapat dipastikan siapa saja yang akan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional tahun ini.
Menurut catatan Kementerian Sosial, tahun ini terdapat 49 nama tokoh nasional yang diusulkan. Mereka dinilai berjasa besar dalam perjuangan politik, pendidikan, sosial, hingga budaya bangsa.
Selain Gus Dur dan Soeharto, beberapa nama lain yang masuk daftar antara lain Marsinah, Ali Sadikin, Kiai Bisri Syansuri, dan KH Muhammad Yusuf Hasyim.
Gus Ipul menegaskan bahwa pemberian gelar tersebut bukan semata penghargaan simbolik, tetapi bentuk penghormatan kepada sosok yang telah mewarnai perjalanan sejarah Indonesia.
“Pahlawan itu bukan hanya yang berjuang di medan perang, tapi juga yang menyalakan kesadaran dan menegakkan nilai kemanusiaan,” tutup Gus Ipul.
(Yanto)


