SUMENEP, infojalanan.info
– Di hamparan Lapangan Arjasa, Kabupaten Sumenep, semangat pengabdian dan nilai-nilai kebangsaan berpadu dalam sebuah persiapan yang sarat makna. Siswa-siswi pilihan dari sembilan lembaga pendidikan mengikuti gladi bersih pengibaran bendera, Rabu sore (21/10/2026), menjelang peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober.
Di tengah lapangan yang terbuka, setiap langkah memiliki arti, setiap instruksi menuntut ketelitian, dan setiap gerakan mengandung tanggung jawab. Para peserta tidak sekadar berlatih untuk menyempurnakan sebuah prosesi, tetapi juga sedang menjalani proses pembentukan karakter, menempa keteguhan mental, serta belajar memaknai arti disiplin dan pengabdian.
Selama 15 hari, terhitung sejak 7 Oktober, mereka menjalani pembinaan intensif dengan semangat yang terus dipelihara. Terik matahari, debu lapangan, dan pengulangan gerakan menjadi bagian dari perjalanan yang harus dilalui. Sebab, tidak ada kekompakan yang hadir dengan sendirinya, tidak ada kedisiplinan yang tumbuh tanpa latihan, dan tidak ada keberhasilan yang dapat diraih tanpa kesungguhan.
Sembilan lembaga pendidikan turut menyatukan langkah melalui keterlibatan siswa-siswi terbaiknya, yakni SMA Negeri 1 Arjasa, SMK Negeri Arjasa, SMK Al Hidayah, MA Al Hidayah, SMA Muhammadiyah 3 Arjasa, SMA MU, MTs Al Hidayah, SMP I, dan MTs Zainul Huda. Mereka datang dari lingkungan pendidikan yang berbeda, tetapi berdiri dalam satu barisan, membawa tujuan yang sama: memberikan pengabdian terbaik melalui tugas yang dipercayakan.
Proses pembinaan dipandu oleh personel Koramil 0827/18 Kangean, yakni Serka Marzuki, Serka Adi Sujarwadi, dan Sertu Ketut. Melalui latihan yang mengedepankan kedisiplinan dan ketelitian, para pelatih membimbing peserta untuk menyelaraskan gerakan, menjaga ketegapan sikap, serta memahami bahwa keberhasilan sebuah prosesi ditentukan oleh kesiapan dan tanggung jawab seluruh anggota.
Gladi bersih menjadi momentum untuk menguji hasil latihan sekaligus memantapkan kesiapan sebelum pelaksanaan kegiatan. Tidak hanya ketepatan langkah yang diperhatikan, tetapi juga konsentrasi, kerapian formasi, dan kemampuan bekerja sama. Di sinilah para peserta belajar bahwa satu gerakan yang tidak selaras dapat memengaruhi keseluruhan barisan, sebagaimana dalam kehidupan, keberhasilan bersama membutuhkan kepedulian dan kesediaan untuk saling menguatkan.
Menjelang Hari Santri Nasional, kegiatan ini menghadirkan pesan yang lebih mendalam tentang hubungan antara pendidikan, perjuangan, dan kecintaan terhadap Tanah Air. Semangat santri yang tumbuh dari tradisi keilmuan, keteguhan akhlak, serta pengabdian kepada masyarakat memiliki relevansi kuat dengan tantangan generasi muda masa kini. Bahwa mencintai bangsa bukan sekadar menghafal sejarah perjuangan, melainkan melanjutkan nilai-nilainya melalui tindakan nyata.
Nasionalisme tidak selalu harus diterjemahkan melalui kata-kata lantang atau simbol-simbol yang ditampilkan dalam upacara. Nasionalisme juga hidup dalam kesediaan menaati aturan, menghormati perbedaan, menjaga persatuan, dan menjalankan tanggung jawab dengan sepenuh hati. Nilai-nilai itulah yang perlahan ditanamkan melalui proses latihan, ketika para pelajar belajar menempatkan kepentingan bersama di atas keinginan pribadi.
Lapangan Arjasa sore itu menjadi ruang pembelajaran yang melampaui batas ruang kelas. Di sana, para peserta ditempa untuk memahami bahwa kehormatan tidak datang hanya karena seseorang berdiri dalam sebuah barisan, tetapi lahir dari kesungguhan menjaga amanah. Mereka juga belajar bahwa disiplin bukanlah beban, melainkan fondasi untuk membangun kepercayaan, sedangkan kekompakan bukan sekadar keseragaman gerakan, melainkan kesediaan untuk berjalan bersama menuju tujuan yang sama.
Pada akhirnya, gladi bersih ini bukan hanya tentang kesiapan mengibarkan bendera dalam sebuah peringatan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi gambaran kecil tentang bagaimana masa depan bangsa dipersiapkan: melalui pendidikan yang membangun pengetahuan, latihan yang menumbuhkan kedisiplinan, serta nilai-nilai luhur yang membentuk karakter. Dari Lapangan Arjasa, tersirat sebuah harapan bahwa generasi muda tidak hanya mampu berdiri tegak ketika menjalankan tugas, tetapi juga memiliki keteguhan untuk menjaga persatuan, merawat kebangsaan, dan meneruskan semangat perjuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Jurnalis :
Bung Yanto
