Infojalanan.info
– Ketimpangan fasilitas pendidikan di wilayah terpencil kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, kondisi memprihatinkan dialami SD Negeri Leomanu yang berada di Desa Nunuanah, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Melalui sebuah video yang beredar luas di media sosial, terlihat bagaimana aktivitas belajar-mengajar di sekolah tersebut kerap terganggu setiap kali hujan deras turun. Air hujan dengan mudah mengalir dan menggenangi area tempat siswa belajar, memaksa guru dan murid bertahan di tengah kondisi serba terbatas.
Berbeda dengan ruang kelas pada umumnya, SDN Leomanu tidak memiliki bangunan permanen yang layak. Anak-anak belajar di bawah atap sederhana berbahan anyaman kayu, tanpa dinding penutup dan tanpa lantai semen.
Saat hujan turun, air langsung mengalir di atas tanah yang menjadi alas kelas. Bangku-bangku siswa terendam, sementara sebagian anak harus mengangkat kaki agar sepatu dan seragam tidak basah.
“Kalau hujan besar, kelas berubah seperti aliran air,” ungkap seorang relawan pengajar yang merekam kondisi tersebut.
Meski sebagian siswa terlihat ceria dan bermain air, situasi ini menunjukkan realitas pahit dunia pendidikan di daerah pelosok yang belum tersentuh pembangunan infrastruktur memadai.
Selain kondisi bangunan, tantangan lain yang dihadapi SDN Leomanu adalah akses menuju lokasi. Jarak tempuh dari pusat Kota Kupang bisa mencapai 10 jam perjalanan, termasuk harus menyeberangi sungai besar tanpa jembatan.
Ketika musim hujan tiba, sungai meluap dan jalur menuju desa terputus. Akibatnya, sekolah kerap terisolasi dan aktivitas belajar terancam terhenti.
Saat ini, SDN Leomanu memiliki 71 siswa yang tetap berusaha mengikuti pelajaran di tengah keterbatasan fasilitas dan risiko alam yang terus mengintai.
Viralnya video kondisi sekolah tersebut memicu reaksi luas dari masyarakat. Banyak warganet menyampaikan keprihatinan sekaligus harapan agar pemerintah lebih serius memperhatikan sekolah-sekolah di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Sejumlah komentar juga menyoroti pentingnya pemerataan pembangunan pendidikan, bukan hanya fokus pada program bantuan, tetapi juga perbaikan fisik sekolah dan akses dasar bagi peserta didik.
Kondisi SDN Leomanu menjadi cermin bahwa pemerataan pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama di wilayah terpencil yang hingga kini masih berjuang dengan fasilitas paling dasar.
(Yan)
