Infojalanan.info
– Insiden kekerasan yang melibatkan seorang guru dan sejumlah siswa di SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, menyita perhatian publik setelah videonya beredar luas di media sosial.
Guru Bahasa Inggris bernama Agus Saputra dilaporkan mengalami luka memar di beberapa bagian tubuh usai terlibat konflik fisik dengan sejumlah siswa. Peristiwa tersebut kini menjadi sorotan karena masing-masing pihak membeberkan versi kronologi yang berbeda.
Berdasarkan keterangan siswa berinisial MLF yang beredar di media sosial, ketegangan disebut bermula dari situasi kelas yang ribut menjelang akhir jam pelajaran. MLF mengaku berteriak meminta teman-temannya tenang, namun suara itu diduga memicu kemarahan sang guru.
Menurut pengakuan siswa, guru tersebut masuk ke kelas dan langsung menanyakan sumber teriakan. Ketegangan meningkat saat terjadi adu argumen, yang berujung pada aksi tamparan di dalam kelas. Peristiwa itu disebut menjadi pemicu emosi lanjutan.
Siswa juga mengungkap adanya kebiasaan panggilan tertentu di kelas yang menjadi sumber salah paham. Hal ini, menurut mereka, turut memperkeruh suasana dan mempercepat konflik antara guru dan murid.
Sementara itu, versi berbeda disampaikan oleh Agus Saputra. Ia menegaskan bahwa tindakannya bermula dari upaya menegur siswa yang dianggap tidak sopan dan melontarkan kata-kata yang merendahkan martabat guru.
Agus mengakui adanya tamparan yang dilakukan secara refleks saat situasi memanas. Namun, ia menegaskan tidak pernah berniat melakukan kekerasan berlebihan. Ia juga membantah tudingan menghina siswa dengan sebutan tertentu, dan menyebut ucapannya disampaikan dalam konteks motivasi.
Setelah insiden di kelas, mediasi sempat dilakukan oleh pihak sekolah. Namun situasi kembali memanas saat jam istirahat, ketika sejumlah siswa dari berbagai kelas berkumpul dan terjadi aksi pengeroyokan terhadap sang guru.
Akibat kejadian tersebut, Agus mengalami luka memar dan syok psikologis. Meski demikian, ia mengaku masih mempertimbangkan langkah hukum dengan alasan masa depan siswa-siswinya
Hingga saat ini, pihak sekolah dan instansi terkait belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai hasil penanganan kasus tersebut. Aparat kepolisian disebut masih melakukan pendalaman untuk memastikan duduk perkara secara menyeluruh.
Kasus ini kembali membuka diskusi publik mengenai relasi guru dan siswa, pentingnya komunikasi di lingkungan sekolah, serta perlunya mekanisme penyelesaian konflik yang adil dan edukatif tanpa kekerasan.
Pewarta : Yanto
