Jakarta, infojalanan.info -
comedy Pandji yang berjudul “Mesakke Bangsaku”. Dalam salah satu segmen, ia menyinggung tradisi pemakaman Toraja yang dikenal megah dan penuh biaya. Pandji berkelakar bahwa karena tradisi tersebut, “orang Toraja bisa jatuh miskin demi upacara kematian.”
Candaan itu memicu gelombang kemarahan terutama karena upacara kematian (rambu solo’) adalah ritual paling suci dalam adat Toraja, simbol penghormatan tertinggi kepada leluhur.
Bagi masyarakat Toraja, ucapan Pandji bukan sekadar lelucon yang tidak lucu, melainkan penghinaan terhadap jantung budaya mereka. Dari sinilah, Aliansi Pemuda Toraja kemudian melaporkannya ke Mabes Polri, dengan dugaan penghinaan dan ujaran bernuansa SARA.
Sanksi yang Lebih dari Sekadar Denda
Bagi orang luar, sanksi 48 kerbau dan 48 babi mungkin terdengar berlebihan. Namun bagi masyarakat Toraja, sanksi itu adalah cara leluhur menegakkan keadilan tanpa kebencian.
Kerbau dan babi dalam adat Toraja bukan hanya hewan persembahan mereka adalah penghubung antara manusia dan roh nenek moyang. Menyembelihnya berarti mengembalikan harmoni yang terguncang.
Sementara uang Rp2 miliar akan dikelola lembaga adat untuk pendidikan budaya, pemberdayaan generasi muda Toraja, dan pemulihan simbol-simbol adat yang dianggap tercemar oleh pernyataan Pandji.
“Kami tidak sedang mencari keuntungan materi. Kami hanya ingin budaya kami dihormati,” tegas Benyamin Rante All.
Pelajaran dari Seorang Komedian
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi siapa pun yang bermain di dunia hiburan dan humor. Bahwa di negeri dengan ratusan suku dan ribuan adat seperti Indonesia, batas antara lelucon dan penghinaan bisa sangat tipis.
Pandji kini berada di persimpangan antara penyesalan pribadi dan tanggung jawab sosial. Ia sudah meminta maaf, namun adat Toraja mengajarkan bahwa maaf sejati baru sah bila diikuti dengan tindakan nyata yakni pemulihan keseimbangan yang terganggu.
Ketika akhirnya ia datang ke Toraja dan menjalani prosesi adat itu nanti, bukan hanya Pandji yang akan diuji tetapi juga bagaimana bangsa ini memaknai humor, penghormatan, dan kebudayaan.
(Saiful Bahri)


